Sajak Menuju Maghrib

Saat yg dirindu terselubung bersama jutaan rumus pangkat dan waktu
Saat yg dinanti tak pernah padam untuk menggerakkan kaki
Saat yg dtunggu tak pernah menengok walau sekedar angin lalu
Membenarkan intuisi walau kenyataan tak semanis ekspektasi
Selalu

Pejamkan mata
Pejamkan mata
Pejamkan mata



Aku tersandung oleh batu yang ternyata juga mengenaimu
Lalu kutanyakan apa dunia hanya sebesar biji kenari?
Tapi mengapa hanya sejengkal pun rasanya sulit untuk menemukan jejak
Saat ku berkali-kali bertanya dengan sajak yg sama
Kusapa anak yg mengaitkan senarnya
Dia hanya asyik dengan layangannya
Kucoba pula bertanya pada anak-anak yg berlarian, mereka juga hanya mengeluarkan gelak tawa
Kuhampiri pada anak yg sedang mengembalapun dia hanya acuh tak acuh

Berkali2 rasanya ingin melepaskan rasa penat
Membanjiri pipi namun bukan dengan air mata
Mengumpat namun bukan dengan kata-kata
Saat kau bersajak, teorimu tak berarti
Kisahmu mungkin tak memahami situasi
Atau aku malah yang tak mengerti

Sudah berapa saja dosa yg kubuat
Bermain-main dengan imajinasi
Membuat sembilu dengan kondisi tak mau tau
Tapi hati tetap memilih yg terpilih

Saat temaram memercikkan kemegahannya pada wajah
Tapi aku hanya ingin menunduk
Menanti sosok untuk benar2 bisa diadu
Dan pada saatnya aku bisa berkata bahwa aku bangga
Dan berdiri dengan rasa haru


Tuhan Maha Bijak
Skenarionya tak pernah salah
Jika tak terbukti maka kau bisa angkat kaki
Maka buktikan pula
Bahwa jarak yg terbentang memang bagian dari teks yg kau baca
Dengan begitu pasti kau tahu
Bagaimana rasanya Adam dan Hawa saat bersatu



Komentar

Postingan Populer